Rabu, 03 Mei 2017

Pengelolaan Museum Mandar Sebagai Daya Tarik Wisata

Generasi masa kini harus mampu memahami dan belajar dari pengalaman sejarah. Masa lalu merupakan pembelajaran yang sangat penting sebagai refleksi dari kehidupan serta pijakan untuk membangun di masa depan. Demikian seperti ungkapan “We learn history for learning the present” (Kambali, 2005). Salah satu media yang sangat efektif untuk mengenal sejarah ialah melalui museum. Museum bagi suatu bangsa sangatlah penting. Peradaban suatu bangsa dapat dilihat dari atau lewat museum yang dimilikinya. Seorang wisatawan yang datang di suatu daerah tidak perlu menjelajah seluruh daerah itu untuk mengenal dan melihat kebudayaan atau sejarahnya. Dengan adanya museum, peradaban nenek moyang masyarakat kita dapat dipahami. Menurut International Council of Museum (ICOM), museum adalah suatu lembaga yang bersifat tetap dan memberikan pelayanan terhadap kepentingan masyarakat dan kemajuannya terbuka untuk umum tidak bertujuan semata-mata mencari keuntungan untuk mengumpulkan, memelihara, meneliti, dan memamerkan benda-benda yang merupakan tanda bukti evolusi alam dan manusia untuk tujuan studi, pendidikan, dan rekreasi.
Namun dalam konteksnya, museum saat ini harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Kemauan dan ketertarikan masyarakat terhadap museum sangat dipengaruhi oleh bagaimana suatu museum mampu menyesuaikan diri dengan keinginan pengunjung serta wisatawan. Museum harus mampu memberikan rasa kenyamanan, aman, sejuk serta memenuhi kebutuhan para pengunjung. Inilah peran museum sebagai daya tarik wisata. Dalam perspektif pariwisata, museum tidak lagi hanya berfungsi sebagai objek penelitian dan pendidikan, namun juga berperan sebagai tujuan dan penyelenggara rekreasi.  Oleh sebab itu, sudah sepantasnya museum  dikelola demi memenuhi unsur kenikmatan (enjoyment), hiburan (entertainment), dan pendidikan (education) bagi para pengunjungnya. Selain aspek diatas, museum yang mengembangkan perannya sebagai daya tarik wisata harus memenuhi tiga syarat sebagaimana teori yang dikemukakan oleh Yoeti (1996:177) sebagai berikut:
1.      Daerah itu harus mempunyai apa yang disebut sebagai “something to see”. Artinya di tempat tersebut harus ada objek wisata dan atraksi wisata, yang berbeda dengan apa yang dimiliki daerah lain.
2.       Di daerah tersebut harus tersedia apa yang disebut dengan istilah “something to do”. Artinya di tempat tersebut setiap banyak yang dilihat dan disaksikan, harus pula disediakan fasilitas rekreasi atau amusements yang dapat membuat mereka betah tinggal lebih lama di tempat itu.
3.      Di daerah tersebut harus tersedia apa yang disebut dengan ”something to buy”. Artinya, di tempat tersebut harus tersedia fasilitas untuk berbelanja (shopping), terutama barang-barang souvenir dan kerajinan rakyat sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke tempat asal masing-masing.


Untuk memahami peranan dan fungsi museum sebagai sarana edukasi dan rekreasi penulis berkesempatan mengunjungi Museum Mandar Majene yang berada di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Museum Mandar Majene didirikan berdasarkan keputusan Seminar kebudayaan Mandar di Majene pada tanggal 2 Agustus 1984. Pada tahun 1989 status hukum Museum Mandar Majene dialihkan dari status swasta (yayasan) menjadi Museum Daerah Kabupaten Majene. Selain itu pada tahun yang sama diputuskan pula pemindahan lokasi museum dari lokasi lama ke bangunan bekas Rumah Sakit Umum Majene hingga sampai sekarang.  Museum Mandar memiliki kurang lebih 1304 buah koleksi yang terdiri dari koleksi geologi, geografi, biologi, etnografi, arkeologi, sejarah, numismatik, heraldik, filologi, keramik, seni rupa, dan teknologi.

Gambar 1. Tangga Menuju Museum Mandar
Foto : Rizaldy

     Dari sekian banyak koleksi yang terdapat di Museum Mandar, koleksi yang paling banyak menarik minat pengunjung ialah koleksi benda bersejarah. Beberapa jenis benda bersejarah yang disimpan di Museum Mandar antara lain fosil batu, senjata tajam tradisional, keramik, piring kuno, pakaian adat tradisional serta berbagai benda kuno lainnya. Ada pula silsilah kerajaan Majene serta gambar mengenai gambar mengenai makam serta raja-raja yang terdahulu. Disisi lain terdapat berbagai kaligrafi kuno yang berasal dari nenek moyang suku mandar. 

Gambar 2. Salah satu lukisan yang terdapat di Museum Mandar
Foto : Rizaldy

Selain itu bangunan Museum Mandar juga memiliki sejarah tersendiri. Bangunan tersebut sebelumnya merupakan gedung rumah sakit yang sudah digunakan sejak zaman Kolonial Hindia Belanda. Bangunan ini mengandung nilai historis mengandung peristiwa penting dimana masyarakat Mandar turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada era Kolonial Belanda. Di Museum tersebut juga memiliki koleksi batu bata yang digunakan untuk membangun gedung rumah sakit tersebut.
            Hal lain yang unik dari Museum Mandar ialah terdapat replika jenis perahu tradisional yang digunakan suku Mandar. Di sini, ada beberapa replika berbagai jenis perahu tradisional. Ada maket perahu, yaitu perahu tanpa layar. Lalu, ada perahu layar dengan satu layar maupun dengan dua layar. Salah satunya adalah perahu Lete', yang digunakan mengangkut barang antar pulau. Walau bentuknya kecil, perahu Lete' mampu mengangkut barang hingga 15 ton. Perahu Lete' ukuran besar bahkan memiliki daya angkut sebesar 50 ton. Ada pula maket perahu Ba'go yang memiliki daya angkut hingga 100 ton dan menggunakan dua layar. Museum tersebut juga menampilkan keunikan suku Mandar. Selain mengenai perahu, di museum ini banyak terdapat beragam informasi mengenai kebudayaan suku Mandar. Pengunjung bisa mengenali pakaian adat, bentuk rumah, hingga peralatan rumah tangga.



Gambar 3. Replika perahu Sandek
Foto : Rizaldy


Suku Mandar yang mendiami kawasan pesisir Provinsi Sulawesi Barat sejak lama terkenal sebagai pelaut ulung. Mereka mampu mengarungi lautan Indonesia hingga ke Kalimantan bahkan ke daerah Nusa Tenggara dengan mengandalkan perahu layar tradisional. Dengan kemampuan yang ulung, nenek moyang suku Mandar hanya mengandalkan angin saat berlayar serta kelihaian membaca bintang. Saat ini perahu-perahu layar tradisional itu sudah mengalami banyak perubahan.

Koleksi lain yang terdapat di Museum Mandar antara lain :

Gambar 4. Struktur Kerajaan Pambuan Majene
Foto : Rizaldy

Gambar 5. Salah satu kaligrafi kuno Suku Mandar
Foto : Rizaldy

Gambar 6. Sejarah lahirnya lagu tradisional Suku Mandar
Foto : Rizaldy

Museum Mandar berlokasi tepatnya di Jalan Raden Nomor 17, Pangali-ali, Kecamatan Banggae , Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Museum ini merupakan satu – satunya museum yang berada di Kabupaten Majene. Selain dari aksesnya yang mudah, letak strategis museum ini yang berada di tengah kota, dekat dengan sarana lainnya seperti tempat ibadah, restoran serta pusat informasi yakni Dinas Budaya dan Pariwisata itu sendiri. Selain itu keunggulan yang mampu menarik pengunjung yaitu beragam variasi koleksi benda yang terdapat di Museum Mandar. Dengan adanya beragam koleksi serta keunikan (attraksi) serta lokasi yang mudah dicapai (aksesibilitas), Museum Mandar memiliki potensi sebagai daya tarik wisata unggulan di Kabupaten Majene bahkan mampu menjadi ikon museum di Sulawesi Barat.
Namun disamping keunggulan tersebut, masih banyak hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan Museum Mandar. Banyak nya kendala yang terdapat dalam pengelolaan menjadikan museum ini terkesan stagnan pada perkembangannya. Kendala yang pertama ialah, belum adanya kejelasan antar Dinas Budaya Pariwisata setempat dengan pengelola museum mengenai jabatan struktural yang ada di museum tersebut. Museum Mandar yang status nya merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dibawah Dinas Budaya dan Pariwisata Majene (DISBUDPAR) sampai saat ini hanya memiliki Kepala UPTD. Hal ini dibenarkan oleh pengelola Museum tersebut. Sekiranya yang menjadi permasalahan ialah belum ada kejelasan seksi serta kepala bidang sebagai pengelola di museum tersebut. Hal ini menjadikan kendala pengembangan pengelolaan museum dalam aspek sumber daya manusia. Karena ketika adanya pelatihan – pelatihan yang diadakan diluar daerah mengenai pengelolaan museum, hanya orang Dinas yang diberangkatkan bukan orang yang mengelola museum tersebut. Penulis berkesempatan untuk mewancarai Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permusiuman di Dinas Budaya dan Pariwisata Majene. Dalam isu ini beliau menuturkan bahwa seiring dikarenakan adanya nomenklatur yang berubah – ubah maka sampai saat ini hanya ada Kepala UPTD. Namun kedepannya beliau menyampaikan bahwa akan ada perombakan struktural secara besar-besaran untuk mengatasi masalah tersebut.
Kendala yang kedua adalah masih kurangnya perawatan dan tata letak koleksi serta aspek fisik bangunan yang memadai pada Museum Mandar. Kendati Museum Mandar memiliki berbagai macam koleksi, namun tata letak sebagian koleksi – koleksi tersebut masih terkesan acak serta tidak menarik. Sebagai contoh terdapatnya lukisan kain yang menjadi koleksi namun terpajang tidak menggunakan bingkai dan kaca. Terdapat pula struktur kerajaan kerajaan yang tertulis namun tidak di letakkan dan digantung dengan semestinya. Hal tersebut menjadi ancaman bagi kondisi koleksi. Lemahnya perawatan dan perlindungan mampu membuat koleksi yang berada di Museum tidak bertahan lama. Selain itu masih banyak pula etalase – etalase yang berdebu sehingga terkesan terbengkalai.  Hal tersebut belum mendapatkan solusi dikarenakan minimnya anggaran pemerintah yang dialokasikan terhadap museum tersebut.

Gambar 7. Bangunan yang terkesan lusuh dan terdapat pintu kaca yang pecah
Foto : Rizaldy

Disisi lain, kendala yang ketiga ialah belum adanya aktivitas dan amenitas yang mampu menarik pengunjung pada museum tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permusiuman, Museum Mandar belum memiliki auditorium dan ruang tata pameran.  Beliau sangat menyayangkan bahwa Museum Mandar yang memiliki banyak koleksi namun belum memiliki fasilitas yang memadai. Di museum tersebut pun belum adanya aktivitas yang dapat lebih menarik pengunjung sehingga wisatawan yang berkunjung masih sekedar berfoto-foto.
Dalam aspek promosi, Museum ini pun masih belum sepenuhnya aktif dalam melakukan promosi. Promosi yang dilakukan hanya sekedar penyuluhan – penyuluhan terhadap sekolah – sekolah. Museum Mandar yang sudah terdaftar dalam Asosiasi Museum Indonesia (AMI) namun belum memiliki wadah atau forum yang proporsional untuk melakukan sosialisasi. Hal ini menjadi kendala dikarenakan pengelola museum (UPTD) dan dinas setempat (DISBUDPAR) belum mampu mensinergi dalam usaha mempromosikan museum tersebut. Namun kedepannya usaha mengembangkan promosi masih terus dilakukan. Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permusium DInas Budaya dan Pariwisata Majene menuturkan bahwa akan adanya pameran museum bersama yang dilakukan di Benteng Fort Rotterdam, Makassar pada 5 juli 2017. Harapannya dengan adanya kegiatan seperti itu mampu lebih memperkenalkan mengenai Museum Mandar
Museum Mandar sebagai sarana edukasi dan rekreasi unggulan memang bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Banyaknya kendala dalam pengelolaan serta kurangnya anggaran memang menjadi hambatan utama yang dihadapi. Dengan adanya penulisan ini, diharapkan agar mampu menjadi catatan bagi pengelola serta dinas setempat untuk mampu mengembangkan Museum Mandar. Hal ini sangatlah penting dikarenakan museum merupakan salah satu media yang mampu mengedukasi masyarakat serta mendatangkan pengunjung bagi kegiatan pariwisata di daerah tersebut.


DAFTAR PUSTAKA :

1.   http://asepkambali.multiply.com/journal/item/
2.  ICOM, 2004, Running a Museum : A Parctical Handbook, International Council of Museum, UNESCO,                France
3.   Oka A. Yoeti. Edisi Revisi, Pengantar Ilmu Pariwisata, Penerbit Angkasa. Bandung





Tidak ada komentar:

Posting Komentar