Generasi masa kini harus mampu memahami dan belajar
dari pengalaman sejarah. Masa lalu merupakan pembelajaran yang sangat penting
sebagai refleksi dari kehidupan serta pijakan untuk membangun di masa depan.
Demikian seperti ungkapan “We learn history
for learning the present” (Kambali, 2005). Salah satu media yang sangat
efektif untuk mengenal sejarah ialah melalui museum. Museum bagi suatu bangsa
sangatlah penting. Peradaban suatu bangsa dapat dilihat dari atau lewat museum
yang dimilikinya. Seorang wisatawan yang datang di suatu daerah tidak perlu
menjelajah seluruh daerah itu untuk mengenal dan melihat kebudayaan atau
sejarahnya. Dengan adanya museum, peradaban nenek moyang masyarakat kita dapat
dipahami. Menurut International Council
of Museum (ICOM), museum adalah suatu lembaga yang bersifat tetap dan
memberikan pelayanan terhadap kepentingan masyarakat dan kemajuannya terbuka
untuk umum tidak bertujuan semata-mata mencari keuntungan untuk mengumpulkan,
memelihara, meneliti, dan memamerkan benda-benda yang merupakan tanda bukti
evolusi alam dan manusia untuk tujuan studi, pendidikan, dan rekreasi.
Namun dalam
konteksnya, museum saat ini harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Kemauan
dan ketertarikan masyarakat terhadap museum sangat dipengaruhi oleh bagaimana
suatu museum mampu menyesuaikan diri dengan keinginan pengunjung serta
wisatawan. Museum harus mampu memberikan rasa kenyamanan, aman, sejuk serta
memenuhi kebutuhan para pengunjung. Inilah peran museum sebagai daya tarik wisata.
Dalam perspektif pariwisata, museum tidak lagi hanya berfungsi sebagai objek
penelitian dan pendidikan, namun juga berperan sebagai tujuan dan penyelenggara
rekreasi. Oleh sebab itu, sudah
sepantasnya museum dikelola demi
memenuhi unsur kenikmatan (enjoyment),
hiburan (entertainment), dan
pendidikan (education) bagi para
pengunjungnya. Selain aspek diatas, museum yang mengembangkan perannya sebagai
daya tarik wisata harus memenuhi tiga syarat sebagaimana teori yang dikemukakan
oleh Yoeti (1996:177) sebagai berikut:
1. Daerah itu harus mempunyai
apa yang disebut sebagai “something to
see”. Artinya di tempat tersebut harus ada objek wisata dan atraksi wisata,
yang berbeda dengan apa yang dimiliki daerah lain.
2. Di daerah tersebut harus tersedia apa yang
disebut dengan istilah “something to do”.
Artinya di tempat tersebut setiap banyak yang dilihat dan disaksikan, harus
pula disediakan fasilitas rekreasi atau amusements
yang dapat membuat mereka betah tinggal lebih lama di tempat itu.
3. Di daerah tersebut harus
tersedia apa yang disebut dengan ”something
to buy”. Artinya, di tempat tersebut harus tersedia fasilitas untuk
berbelanja (shopping), terutama
barang-barang souvenir dan kerajinan rakyat sebagai oleh-oleh untuk dibawa
pulang ke tempat asal masing-masing.
Untuk memahami
peranan dan fungsi museum sebagai sarana edukasi dan rekreasi penulis
berkesempatan mengunjungi Museum Mandar Majene yang berada di Kabupaten Majene,
Sulawesi Barat. Museum Mandar Majene didirikan berdasarkan keputusan Seminar
kebudayaan Mandar di Majene pada tanggal 2 Agustus 1984. Pada tahun 1989 status
hukum Museum Mandar Majene dialihkan dari status swasta (yayasan) menjadi
Museum Daerah Kabupaten Majene. Selain itu pada tahun yang sama diputuskan pula
pemindahan lokasi museum dari lokasi lama ke bangunan bekas Rumah Sakit Umum
Majene hingga sampai sekarang. Museum
Mandar memiliki kurang lebih 1304 buah koleksi yang terdiri dari koleksi
geologi, geografi, biologi, etnografi, arkeologi, sejarah, numismatik, heraldik,
filologi, keramik, seni rupa, dan teknologi.
Gambar 1. Tangga Menuju Museum Mandar
Foto : Rizaldy
Dari sekian banyak koleksi
yang terdapat di Museum Mandar, koleksi yang paling banyak menarik minat
pengunjung ialah koleksi benda bersejarah. Beberapa jenis benda bersejarah yang
disimpan di Museum Mandar antara lain fosil batu, senjata tajam tradisional,
keramik, piring kuno, pakaian adat tradisional serta berbagai benda kuno
lainnya. Ada pula silsilah kerajaan Majene serta gambar mengenai gambar
mengenai makam serta raja-raja yang terdahulu. Disisi lain terdapat berbagai
kaligrafi kuno yang berasal dari nenek moyang suku mandar.
Gambar 2. Salah satu lukisan yang terdapat di
Museum Mandar
Foto : Rizaldy
Selain itu bangunan Museum Mandar juga memiliki
sejarah tersendiri. Bangunan tersebut sebelumnya merupakan gedung rumah sakit
yang sudah digunakan sejak zaman Kolonial Hindia Belanda. Bangunan ini
mengandung nilai historis mengandung peristiwa penting dimana masyarakat Mandar
turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada era Kolonial Belanda. Di Museum
tersebut juga memiliki koleksi batu bata yang digunakan untuk membangun gedung
rumah sakit tersebut.
Hal lain yang unik dari
Museum Mandar ialah terdapat replika jenis perahu tradisional yang digunakan
suku Mandar. Di sini, ada beberapa replika berbagai jenis perahu tradisional.
Ada maket perahu, yaitu perahu tanpa layar. Lalu, ada perahu layar dengan satu
layar maupun dengan dua layar. Salah satunya adalah perahu Lete', yang
digunakan mengangkut barang antar pulau. Walau bentuknya kecil, perahu Lete'
mampu mengangkut barang hingga 15 ton. Perahu Lete' ukuran besar bahkan
memiliki daya angkut sebesar 50 ton. Ada pula maket perahu Ba'go yang memiliki
daya angkut hingga 100 ton dan menggunakan dua layar. Museum tersebut juga
menampilkan keunikan suku Mandar. Selain mengenai perahu, di museum ini banyak
terdapat beragam informasi mengenai kebudayaan suku Mandar. Pengunjung bisa
mengenali pakaian adat, bentuk rumah, hingga peralatan rumah tangga.
Gambar
3. Replika perahu Sandek
Foto
: Rizaldy
Suku Mandar
yang mendiami kawasan pesisir Provinsi Sulawesi Barat sejak lama terkenal
sebagai pelaut ulung. Mereka mampu mengarungi lautan Indonesia hingga ke
Kalimantan bahkan ke daerah Nusa Tenggara dengan mengandalkan perahu layar
tradisional. Dengan kemampuan yang ulung, nenek moyang suku Mandar hanya
mengandalkan angin saat berlayar serta kelihaian membaca bintang. Saat ini
perahu-perahu layar tradisional itu sudah mengalami banyak perubahan.
Koleksi lain yang terdapat di Museum Mandar antara
lain :
Gambar 4. Struktur Kerajaan Pambuan Majene
Foto : Rizaldy
Gambar
5. Salah satu kaligrafi kuno Suku Mandar
Foto
: Rizaldy
Gambar 6. Sejarah lahirnya lagu tradisional Suku
Mandar
Foto : Rizaldy
Museum Mandar berlokasi tepatnya di Jalan Raden Nomor
17, Pangali-ali, Kecamatan Banggae , Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat.
Museum ini merupakan satu – satunya museum yang berada di Kabupaten Majene.
Selain dari aksesnya yang mudah, letak strategis museum ini yang berada di
tengah kota, dekat dengan sarana lainnya seperti tempat ibadah, restoran serta
pusat informasi yakni Dinas Budaya dan Pariwisata itu sendiri. Selain itu
keunggulan yang mampu menarik pengunjung yaitu beragam variasi koleksi benda
yang terdapat di Museum Mandar. Dengan adanya beragam koleksi serta keunikan
(attraksi) serta lokasi yang mudah dicapai (aksesibilitas), Museum Mandar
memiliki potensi sebagai daya tarik wisata unggulan di Kabupaten Majene bahkan
mampu menjadi ikon museum di Sulawesi Barat.
Namun disamping keunggulan tersebut, masih banyak hal
yang perlu diperhatikan dalam pengembangan Museum Mandar. Banyak nya kendala
yang terdapat dalam pengelolaan menjadikan museum ini terkesan stagnan pada
perkembangannya. Kendala yang pertama ialah, belum adanya kejelasan antar Dinas
Budaya Pariwisata setempat dengan pengelola museum mengenai jabatan struktural
yang ada di museum tersebut. Museum Mandar yang status nya merupakan Unit
Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dibawah Dinas Budaya dan Pariwisata Majene
(DISBUDPAR) sampai saat ini hanya memiliki Kepala UPTD. Hal ini dibenarkan oleh
pengelola Museum tersebut. Sekiranya yang menjadi permasalahan ialah belum ada
kejelasan seksi serta kepala bidang sebagai pengelola di museum tersebut. Hal
ini menjadikan kendala pengembangan pengelolaan museum dalam aspek sumber daya
manusia. Karena ketika adanya pelatihan – pelatihan yang diadakan diluar daerah
mengenai pengelolaan museum, hanya orang Dinas yang diberangkatkan bukan orang
yang mengelola museum tersebut. Penulis berkesempatan untuk mewancarai Kepala
Seksi Cagar Budaya dan Permusiuman di Dinas Budaya dan Pariwisata Majene. Dalam
isu ini beliau menuturkan bahwa seiring dikarenakan adanya nomenklatur yang berubah
– ubah maka sampai saat ini hanya ada Kepala UPTD. Namun kedepannya beliau
menyampaikan bahwa akan ada perombakan struktural secara besar-besaran untuk
mengatasi masalah tersebut.
Kendala
yang kedua adalah masih kurangnya perawatan dan tata letak koleksi serta aspek
fisik bangunan yang memadai pada Museum Mandar. Kendati Museum Mandar memiliki berbagai macam
koleksi, namun tata letak sebagian koleksi – koleksi tersebut masih terkesan
acak serta tidak menarik. Sebagai contoh terdapatnya lukisan kain yang menjadi
koleksi namun terpajang tidak menggunakan bingkai dan kaca. Terdapat pula
struktur kerajaan kerajaan yang tertulis namun tidak di letakkan dan digantung
dengan semestinya. Hal tersebut menjadi ancaman bagi kondisi koleksi. Lemahnya
perawatan dan perlindungan mampu membuat koleksi yang berada di Museum tidak
bertahan lama. Selain itu masih banyak pula etalase – etalase yang berdebu
sehingga terkesan terbengkalai. Hal
tersebut belum mendapatkan solusi dikarenakan minimnya anggaran pemerintah yang
dialokasikan terhadap museum tersebut.
Gambar 7. Bangunan yang terkesan lusuh dan terdapat
pintu kaca yang pecah
Foto : Rizaldy
Disisi lain,
kendala yang ketiga ialah belum adanya aktivitas dan amenitas yang mampu
menarik pengunjung pada museum tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala
Seksi Cagar Budaya dan Permusiuman, Museum Mandar belum memiliki auditorium dan
ruang tata pameran. Beliau sangat
menyayangkan bahwa Museum Mandar yang memiliki banyak koleksi namun belum
memiliki fasilitas yang memadai. Di museum tersebut pun belum adanya aktivitas
yang dapat lebih menarik pengunjung sehingga wisatawan yang berkunjung masih
sekedar berfoto-foto.
Dalam aspek promosi, Museum ini pun masih belum
sepenuhnya aktif dalam melakukan promosi. Promosi yang dilakukan hanya sekedar
penyuluhan – penyuluhan terhadap sekolah – sekolah. Museum Mandar yang sudah
terdaftar dalam Asosiasi Museum Indonesia (AMI) namun belum memiliki wadah atau
forum yang proporsional untuk melakukan sosialisasi. Hal ini menjadi kendala
dikarenakan pengelola museum (UPTD) dan dinas setempat (DISBUDPAR) belum mampu
mensinergi dalam usaha mempromosikan museum tersebut. Namun kedepannya usaha
mengembangkan promosi masih terus dilakukan. Kepala Seksi Cagar Budaya dan
Permusium DInas Budaya dan Pariwisata Majene menuturkan bahwa akan adanya
pameran museum bersama yang dilakukan di Benteng Fort Rotterdam, Makassar pada
5 juli 2017. Harapannya dengan adanya kegiatan seperti itu mampu lebih
memperkenalkan mengenai Museum Mandar
Museum Mandar sebagai sarana edukasi dan rekreasi
unggulan memang bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Banyaknya kendala dalam
pengelolaan serta kurangnya anggaran memang menjadi hambatan utama yang
dihadapi. Dengan adanya penulisan ini, diharapkan agar mampu menjadi catatan
bagi pengelola serta dinas setempat untuk mampu mengembangkan Museum Mandar.
Hal ini sangatlah penting dikarenakan museum merupakan salah satu media yang
mampu mengedukasi masyarakat serta mendatangkan pengunjung bagi kegiatan
pariwisata di daerah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA :
1. http://asepkambali.multiply.com/journal/item/
2. ICOM, 2004, Running a Museum : A Parctical Handbook,
International Council of Museum, UNESCO, France
3. Oka A. Yoeti.
Edisi Revisi, Pengantar Ilmu Pariwisata, Penerbit Angkasa. Bandung