Senin, 22 Mei 2017

Wisata Kebun Gowa Sebagai Sarana Rekreasi Alternatif

Wisata Kebun Gowa merupakan salah satu kawasan wisata perkebunan di Sulawesi Selatan. Sesuai dengan namanya, Wisata Kebun Gowa didominasi oleh perkebunan dan area rindang dibawah pepohonan. Berbagai macam pepohonan yang terdapat di Wisata Kebun Gowa antara lain Jeruk, Mangga , Durian, Rambutan serta berbagai tanaman buah lainnya. Selain itu terdapat pula tanaman hias yang mempercantik kawasan ini. Wisata Kebun Gowa terletak di Jl. Poros Malino, Bontomanai, Bontomarannu, Kabupaten Gowa. Kawasan ini cukup mudah diakses karena berada di jalan poros dari Gowa menuju Malino. Namun karena lokasi yang cukup jauh dari pusat kota, dibutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam untuk menuju kawasan ini. Pada awalnya kebun wisata gowa merupakan tempat peristirahatan untuk pribadi bagi pemilik dan keluarganya, namun dengan pertimbangan keindahannya, lokasi ini kemudian dibenahi hingga dibuka untuk umum pada tahun 2008 dengan nama wisata kebun.
Gambar 1. Pintu Masuk dan Area Parkir Wisata Kebun Gowa
Foto oleh :A. Dwi Ayuningtyas Febryatma


Wisata Kebun Gowa buka dari setiap hari dengan tiket masuk Rp. 15.000 ( Senin-Jumat) dan  Rp.25.000 pada hari sabtu-minggu dan hari raya serta hari libur nasional. Wisata Kebun Gowa merupakan daya tarik wisata yang menawarkan berbagai macam aspek kepada pengunjung. Salah satunya ialah dengan pendekatan agrowisata, Wisata Kebun Gowa memiliki berbagai macam budi daya buah-buahan,bunga dan sayuran diantara lainnya terdapat buah naga, lengkeng, durian, jambu,jeruk,manga,rambutan dan lain-lain. Selain itu, terdapat kol, sawi, terong serta banyak tanaman hias anggrek.Perkebunan tersebut terletak di area belakang pada kawasan ini.Pengunjung dapat menikmati serta menikmati sensasi memetik buah sendiri.
Selain itu, dikawasan ini terdapat area pemancingan yang disediakan oleh pengunjung. Pengelola menyediakan alat pancing dan umpan bagi pengunjung yang hobi memancing.Selain fasilitas pemancingan, terdapat juga kolam renang yang disediakan. Kolam renang yang terletak di sebelah kanan dari kawasan ini merupakan salah satu wahana yang sangat ramai dinikmati pengunjung dari orang dewasa hingga anak- anak.

Gambar 2  Fasilitas kolam Renang dan kolam pemancingan Wisata Kebun Gowa
Foto oleh:A. Dwi Ayuningtyas Febryatma

Kawasan ini terdapat pula berbagai macam permainan yang menarik untuk anak-anak. Terdapat permainan seperti roller coaster, kora – kora , komedi putar, dan kereta. Pengunjung dapat menikmati permainan ini dengan biaya dari lima ribu rupiah hingga sepuluh ribu rupiah. Masih ada pula fasilitas tambahan seperti ATV, sepeda listrik, Scooter, motor charge, Toy Box, Time Zone ,roller coaster yang bisa digunakan pengunjung untuk mengelilingi kebun wisata tersebut. Dari segi fasilitas akomodasi, terdapat sejumlah gazebo  disediakan bagi pengunjung yang ingin bersantai dan menikmati suasana di Wisata Kebun Gowa. Selain itu,terdapat berbagai stand minuman dan makanan, serta Restoran bagi pengunjungdengan dengan daya tampung hingga 100 orang. Restoran tersebut menyediakan makanan seperti bakso, aneka nasi goreng, aneka mie dan masakan-masakan lain. Terdapat pula aula yang disewakan untuk aktivitas pengunjung. Aula yang disediakan terbagi menjadi tiga tipe yaitu aula tertutup,aula besar dan aula kecil dengan kisaran harga Rp. 250.000- Rp 1.000.000 . Di aula tersebut sering digunakan bagi rombongan pengunjung yang mengadakan acara atau kegiatan di kawasan ini.  Bagi pengunjung yang ingin menginap, terdapat fasilitas kamar yang berada di samping kolam renang dengan biaya sekitar Rp.500.000 per malam. Bagi wisatawan yang ingin beristirahat setengah hari atau shortime dapat diberikan diskon hingga 50% dari harga kamar.

                         Gambar 3  Beberapa Fasilitas Akomodasi  yang tersedia di Wisata Kebun Gowa
(Restoran, Aula, Penginapan dan Area Bermain)
Foto oleh:A. Dwi Ayuningtyas Febryatma

Wisata Kebun Gowa yang menawarkan beragam kegiatan dan fasilitas merupakan salah satu daya tarik wisata unggulan yang berada di Kabupaten Gowa.Penulis berkesempatan mengunjungi Wisata Kebun Gowa untuk melihat potensi pengembangan dan kendala pengelolaan yang terdapat di Kawasan ini. Melihat dari situasi dan kondisi eksisting dari kawasan tersebut, selain itu penulis juga berkesempatan mewawancarai salah satu pengelola yakni Bapak Sugiyanto selaku Manajer Pemasaran Wisata Kebun Gowa.
Beberapa potensi dan peluang pengembangan yang dimiliki oleh Wisata Kebun Gowa, yang pertama adalah lokasi yang strategis.Lokasi Wisata Kebun Gowa berada di Jalan Poros Malino yang merupakan rute utama bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Malino merupakan peluang bagi kawasan tersebut.Beliau menuturkan bahwa lokasi kawasan ini yang dilewati wisatawan dalam perjalanan menuju Malino, menyebabkan banyaknya pengunjung yang singgah bahkan menginap di kawasan tersebut.Ketika musim liburan, Kebun Wisata Gowa dapat menjadi sarana penginapan alternatif bagi wisatawan yang tidak dapat penginapan di Malino.Keterbatasan akomodasi di Malino menjadikan peluang tersendiri bagi Kawasan Wisata Kebun Gowa untuk meningkatkan pengunjung.
Peluang yang kedua adalah kemampuan untuk menambah kapasitas lahan.Pengelolaan di Wisata Kebun Gowa terus berupaya untuk menambah luas lahan.Beberapa lahan di sekitar daerah tersebut masih merupakan lahan kosong.Sebagian lahan masih dalam negosiasi dengan pemilik setempat, dan sebagian sudah menjadi status kepemilikan Wisata Kebun Gowa. Diharapkan kedepannya dengan adanya penambahan kapasitas lahan dapat menambah daya tampung serta minat wisatawan untuk berkunjung di Wisata Kebun Gowa
Selanjutnya adalah fleksibilitas pergantian wahana bermain.Wahana bermain yang berada di Wisata Kebun Gowa kebanyakan merupakan wahana yang mudah untuk dilepas dalam artian bukan wahana yang sifatnya permanen.Setiap tahunnya pengelola Wisata Kebun Gowa berusaha untuk terus memperbaharui wahana – wahana permainan yang berada di kawasan tersebut.Hal ini dilakukan agar tetap menambah daya minat pengunjung untuk kembali berkunjung ke kawasan tersebut.Diharapkan dengan pergantian wahana setiap tahunnya, kunjungan wisatawan di kawasan tersebut tidak mengalami stagnasi.Hal ini juga menjadikan peluang dikarenakan wahana permainan dapat diubah mengikuti minat wisatawan dan trend pada saat itu.
Selain itu peluang yang terdapat ialah variasi kegiatan dan minat. Seperti yang diketahui, Wisata Kebun Gowa memiliki berbagai macam daya tarik mulai dari kolam pemancingan, kolam renang, area perkebunan serta wahana bermain.Berbagai variasi kegiatan dan fasilitas dapat menjangkau wisatawan dari seluruh kalangan, umur serta minat.Hal ini dapat menjadi peluang jika variasi kegiatan tersebut dapat dikembangkan lebih dalam.Sebagai contoh, ekspansi area perkebunan dan tanaman hias dapat lebih menarik wisatawan yang memiliki minat dengan agrikultur.Selain itu, rencana pengelola untuk menambah wahana waterboom disamping kolam renang dapat menambah minat wisatawan yang ingin melakukan rekreasi khususnya remaja dan anak kecil.
Kendati banyaknya peluang pengembangan yang terdapat di Wisata Kebun Gowa, terdapat pula banyak kendala dalam hal pengelolaan di kawasan tersebut.Salah satunya adalah kapasitas lahan khususnya lahan parkir untuk saat ini.Area parkir yang terbilang kecil menjadi kendala dalam operasional Wisata Kebun Gowa.Ketika kunjungan wisatawan penuh, ruas parkir yang melebar dapat mengganggu aktivitas kendaraan di jalan poros.Hal tersebut menyebabkan pihak pengelola tidak melakukan event maupun promosi yang signifikan pada musim liburan karena adanya antisipasi penuhnya lahan parkir oleh pengunjung.Kondisi ini sangat kontras dengan prinsip pengelolaan yang ingin terus menambah kunjungan wisatawan di kawasan tersebut.
Selanjutnya yang menjadi kendala adalah mengenai pengelolaan pengunjung.Ketika banyak pengunjung yang berada pada Wisata Kebun Gowa, menyebabkan sampah yang berserakan dimana-mana.Hal ini dikarenakan kurangnya kebijakan pengelola dalam mengatur wisatawan yang datang di kawasan tersebut.Meskipun banyaknya tempat sampah yang disediakan serta petugas kebersihan yang ditugaskan, perlu adanya visitor managementdalam penanganan sampah.Pentingnya pihak pengelola dalam memberikan aturan kepada pengunjung baik berupa peringatan hingga sanksi.Hal ini sangatlah penting demi menjaga kenyamanan pengunjung lainnya.Selain dari sampah, ketika kawasan tersebut penuh oleh pengunjung terlihat bahwa rasio petugas yang ditugaskan masih kurang.Petugas wahana merangkap sebagai cleanerdi area tersebut tidak mampu menjaga kebersihan dengan baik.Rasio petugas dengan jumlah kunjungan masih menjadi salah satu kendala pengelolaan pada saat ini.
Kebun Wisata Gowa saat ini dikelola secara mandiri oleh pihak pengelola tanpa investor lain. Ketika melaksanakan pengembangan, dana yang digunakan merupakan hasil omset bersama tanpa campur tangan pihak luar maupun melalui peminjaman bank.Hal tersebut merupakan prinsip pengelola dalam mengembangkan Kebun Wisata Gowa.Hal ini sangatlah baik dalam pengelolaan.Dengan hal tersebut maka pengembangan tersebut dapat meminimalisir resiko – resiko yang mungkin terjadi.Tetapi di satu sisi hal tersebut menjadi kendala.Keterbatasan modal yang berasal dari omset menjadikan pengembangan Wisata Kebun Gowa dilakukan secara perlahan. Namun sekiranya hal tersebut bukanlah kendala yang besar jika pihak pengelola mampu mengelola dan mengalokasikan dana dengan baik
Dari hasil identifikasi peluang pengembangan serta kendala dalam pengelolaan di Wisata Kebun Gowa. Hal tersebut merupakan hasil observasi serta wawancara penulis dengan pihak pengelolaan. Adapun saran rekomendasi penulis untuk pengelolaan Kebun Wisata Gowa yang pertama ialah pengembangan lahan parkir. Pihak pengelola yang sedang berupaya menambah wahana perlunya juga untuk memperluas lahan parkir .Dengan demikian adanya leluasa dalam menambah kapasitas pengunjung di dalam kawasan tersebut.Selanjutnya ialah kebijakan terhadap Pengunjung. Perlu adanya penekanan serta sanksi yang berlaku dalam pengelolaan terhadap sampah. Kebijakan terhadap pengunjung juga dapat digunakan untuk menjaga fasilitas – fasilitas yang tersedia. Secara mendalam kebijakan yang dimaksud adalah bagaimana pihak pengelola mampu membuat kebijakan agar wisatawan tidak membuang sampah dan turut menjaga lingkungan Wisata Kebun Gowa. Hal tersebut sangat penting agar kelestarian lingkungan tetap terjaga dengan baik. Khususnya sampah, dapat dilakukan dengan pendekatan lain. Saran penulis ialah dengan melakukan program ‘’Pungut Sampah Gratis Wahana’’. Hal tersebut dapat digunakan untuk tetap menjaga kebersihan serta dapat menarik pengunjung.Tentunya program tersebut harus dilakukan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi tertentu. Sebagai contoh, program tersebut dapat digunakan pada saat ketika pengunjung sangat banyak khususnya musim liburan. Program Sampah yang dimaksudkan dengan cara wisatawan yang memungut sejumlah sampah plastik dapat diberikan kepada petugas. Sebagai reward, wisatawan dapat bermain wahana dengan gratis dengan waktu tertentu. Hal tersebut juga dapat membantu tolak ukur efektivitas kinerja pegawai terhadap sampah. Diharapkan dengan identifikasi peluang pengembangan dan kendala pengelola ini dapat menjadi salah satu tolak ukur pihak pengelola dalam mengembangkan Wisata Kebun Gowa. Adapun saran yang penulis usulkan semoga menjadi salah satu pertimbangan kedepannya dalam pengembangan kawasan tersebut.








Strategi Pengembangan Benteng Somba Opu Menjadi Daya Tarik Wisata Unggulan

Benteng Somba Opu adalah benteng peninggalan Kesultanan Gowa yang dibangun oleh Raja Gowa ke-9 Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna pada abad ke-16. Benteng ini terletak di Jalan Daeng Tata, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Benteng ini merupakan salah satu daya tarik wisata budaya yang terdapat di Sulawesi Selatan. Namun pemeliharaan dan terkesan di lantarkan menjadikan Benteng ini sepi oleh pengunjung. Hal ini sangat disayangkan dilihat begitu banyaknya potensi yang dapat dikembangkan di Benteng somba Opu. Benteng Somba Opu dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan (DISBUDPAR Prov. Sulsel) dan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan yang dibawahi langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.  Saat ini, masyarakat luas belum terlalu mengetahui keberadaan Benteng Somba Opu. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan strategi dalam pengembangan Benteng Somba Opu sehingga lebih dikenal oleh masyarakat luas karena situs ini memiliki banyak nilai-nilai sejarah yang harus diketahui oleh generasi-generasi muda.

                                                   Baruga Benteng Somba Opu
                                                                               Oleh : Penulis

Strategi yang perlu dilakukan yang pertama adalah optimalisasi melalui sinergi Pentahelix ABGCM (Academician, Bussines, Government, Community and Media). Sinergi Pentahelix ABCGM adalah sinergi stakeholder ( Academics , Bussiness , Government, Community, Media ) yang merupakan kunci dari berkembangnya suatu daya tarik wisata. Keikutsertaan dari semua pihak mampu mendorong kegiatan pariwisata di daerah tersebut. Hal ini dapat diterapkan didalam Benteng Somba Opu dengan melibatkan dari semua kalangan baik dari akademisi, bisnis , pemerintah , komunitas serta media. Yang perlu pertama ialah peran serta akademisi. Akademisi yang dimaksud tidak perlu terlalu luas, mencakup seluruh civitas yang ada di Makassar dan sekitarnya. Keterlibatan  universitas khususnya yang bergerak dibidang pariwisata sangat diperlukan. Selain itu dapat juga melibatkan universitas lain khususnya fakultas seni , budaya , sastra dll. Hal hal yang dapat dilakukan yang pertama adalah terus mengulas lebih dalam perkembangan pariwisata di Benteng Somba Opu melalui tulisan baik artikel, jurnal dll. Selanjutnya diharapkan mampu ikut serta mengadakan sosialisasi sadar wisata dan budaya di Benteng Somba Opu dengan masyarakat sekitar dan pengunjung. Hal lain yang tidak kalah penting yakni bagaimana peran akademisi untuk terus mengevaluasi dan menkritisi pembangunan dan pengelolaan dari pemerintah agar lebih peduli terhadap Benteng Somba Opu

Dari segi Business, diharapkan peran para pengusaha dan investor yang bergerak di bidan pariwisata. Dari hal yang paling kecil, yakni para pedagang kaki lima. Diharapkan para pedagang dapat menjajakan makanan dengan tertib di area benteng Somba Opu. Selain itu, salah satu kegiatan yang dapat dilakukan ialah mengadakan stand kuliner pada hari Sabtu dan Minggu agar dapat menarik pengunjung. Dalam aspek yang lebih mendalam, diharapkan peran travel agent dan tur operator yang serta merta mengikutsertakan Benteng Somba Opu didalam Paket Tur yang diadakan.
Selanjutnya ialah bagaimana peran Government atau pemerintah sebagai pengelola mampu mendorong kegiatan pariwisata di Benteng Somba Opu, dan turut serta menjaga kelestarian lingkungan maupun budaya yang ada di daerah tersebut. Yang pertama ialah mempercepat revitalisasi Benteng Somba Opu khususnya di area belakang. Selain itu, perlunya inovasi pembangunan fasilitas dan kegiatan agar Benteng Somba Opu dapat menarik pengunjung. Tentunya hal ini dapat dicapai dengan usaha kolaboratif bersama pihak investor ataupun pengusaha. Diharapkan pula pemerintah sebagai pihak pengelola mampu terus berupaya menjaga bangunan fisik Benteng Somba Opu dan peninggalan yang terdapat didalamnya.

Selain pemerintah perlu adanya peran community dalam mengembangkan Benteng Somba Opu. Community yang dimaksud adalah masyarakat lokal serta komunitas komunitas yang berkaitan dengan pariwisata, kebudayaan dll. Peran serta masyarakat untuk turut serta menjaga lingkungan Benteng Somba Opu. Hal ini sangatlah penting bagi masyarakat lokal yang menetap di sekitar Benteng Somba Opu. Dari segi komunitas lokal, diharapkan mampu berperan aktif membuat kegiatan di Benteng Somba Opu. Dengan adanya peran komunitas dalam berkegiatan diharapkan mampu menarik minat wisatawana untku mengunjungi Benteng Somba Opu.

Aspek yang terakhir ialah media. Media dalam hal ini bisa merupakan media cetak, media digital maupun media online. Media diharapkan mampu meliput seluruh kegiatan yang ada di Benteng Somba Opu baik yang bersifat pariwisata maupun kegiatan lainnya. Peran media secara tidak langsung dapat membantu mempromosikan dan memperkenalkan Benteng Somba Opu kepada masyarakat lebih luas. Selain itu peran media dapat membangun citra atau image Benteng Somba Opu kepada wisatawan.

Strategi yang kedua ialah yakni pengelolaan pengunjung (Visitor Management). Dalam hal ini ialah bagaimana pihak pengelola mampu mendesain sedemikian rupa kegiatan aktivitas yang ditawarkan untuk pengunjung. Hal yang dapat dilakukan ialah membuat rute kunjungan wisatawan dan papan informasi. Diharapkan wisatawan yang berkunjung ke Benteng  Somba Opu tidak sekedar melihat-lihat dari luar, namun dapat mengeksplorasi seluruh daya tarik yang ada di Benteng Somba Opu. Saran penulis diharapkan terdapat berbagai informasi keseluruhan Benteng Somba Opu di depan Baruga Benteng Somba Opu. Dari titik tersebut wisatawan dapat berjalan mengelilingi area sekitar mulai dari rumah adat, museum hingga pendopo yang berada di belakang kawasan ini. Pentingnya papan informasi yang attraktif agar dapat menarik minat pengunjung dalam mengitari kawasan ini. Selain itu, perlu juga sarana pendukung lainnya seperti penyewaan sepeda atau pun mini caravan untuk memudahkan akses pengunjung. Namun sekiranya hal itu dapat ditambahkan ketika kawasan benteng tersebut sudah berkembang dari segi fisik bangunan maupun akses jalan.

Strategi yang terakhir ialah bagaimana pihak pengelola mampu menerapkan secara keseluruhan strategi, baik sinergi kolaboratif kelima aspek (sinergi pentahelix ABCGM) dan pengelolaan pengunjung agar Benteng Somba Opu menjadi daya tarik wisata unggulan di Benteng Somba Opu. Sekiranya hal tersebut dapat dicapai jika adanya komitmen pemerintah dan masyarakat untuk mengembangkan Benteng Somba Opu. Sebagai perbandingan, perhatian pemerintah untuk mengembangkan Benteng Somba Opu seperti Benteng Fort Rotterdam yang sekarang sudah menjadi daya tarik wisata terkenal khususnya di Makassar. Hal ini dapat dilakukan dengan komitmen penuh pihak pengelola dan keterlibatan seluruh pihak. Sudah seharusnya pihak pemerintah menjadi katalisator mendukung dan mendorong kegiatan pariwisata di Benteng Somba Opu. Tidak hal yang mustahil untuk Benteng Somba Opu berekspansi sebagai kawasan wisata edukasi dan rekreasi. Penambahan attraksi seperti taman burung, taman membaca, dan area bermain dapat dilakukan mengingat banyaknya ketersediaan lahan yang terdapat di Benteng Somba Opu. Diharapkan implementasi keseluruhan strategi, pengelolaan pengunjung dan pengembangan sarana dan fasilitas diharapkan mampu menjadikan Benteng Somba Opu sebagai salah satu daya tarik wisata unggulan di Sulawesi Selatan.

Minggu, 21 Mei 2017

Museum La Galigo Sarana Daya Tarik Wisata Edukasi




                                              Bangunan depan Museum La Galigo
                                                                                 Oleh : Penulis
                                                          

Museum La Galigo adalah sebuah  museum yang terletak di komplek Benteng Ujung Pandang/Fort Rotterdam. Museum ini memiliki gaya bangunan klasik. Nama La Galigo merupakan nama seorang sastrawan besar Sulawesi Selatan yang juga merupakan cikal bakal Raja–Raja Sulawesi Selatan. Museum La Galigo memiliki berbagai kolesi prasejarah, numismatic, keramik asing, sejarah, naskah dan etnografi.  Koleksi etnografi terdiri atas berbagai jenis hasil teknologi, kesenian, peralatan hidup serta benda lai yang dibuat dan digunakan oleh suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Selain itu, museum juga memiliki benda–benda yang berasal dari kerajaan-kerajaan local dan senjata yang pernah digunakan pada saat revolusi kemerdekaan.

 Museum ini beroperasi setiap hari pukul 08.00 hingga 16.00. Tiket museum ini cukup dikatakan murah, untuk orang dewasa yakni membayar Rp.5000. sedangkan untuk anak–anak hanya membayar Rp.2000. Penulis berkesempatan  mengunjungi  Museum La Galigo untuk mengobservasi lebih dalam mengenai keadaan di museum La Galigo.

Museum merupakan salah satu media bagi masyarakat untuk belajar mengenai sejarah, identitas suatu bangsa. Sudah seharusnya masyarakat serta pemerintah memberikan perhatian penuh untuk mengembangkan museum. Museum harus mampu menarik minat masyarakat luas baik dari kalangan pelajar hingga umum untuk mengunjungi museum. Salah satu tantangan yang perlu di perhatikan adalah bagaimana mengelola museum agar fungsi utamanya sebagai media edukasi terus terjaga dan berkembang. Sebagai tujuan edukasi, hal yang pertama perlu diperhatikan adalah bagaimana agar koleksi benda di museum tetap dilestarikan. Hal ini bukanlah hal yang mudah karena setiap benda pasti mengalamai degradasi secara nilai dan estetika.  Yang kedua adalah menjalin kerjasama dengan berbagai institusi pendidikan. Hal ini dapat menarik kalangan pelajar maupun akademis untuk terus tertarik berkunjung di museum. Yang ketiga adalah membuat edukasi didalam museum terus dinamis dan interaktif. Hal ini perlu adanya agar proses pembelajaran di museum tidak terkesan kaku dan monoton. Yang keempat adalah memperkaya koleksi serta informasi didalam museum.

Perincian sejarah didasari dengan informasi yang aktual serta benda koleksi sebagai peninggalan sejarah merupakan hal yang penting. Sebagaimana observasi yang penulis lakukan, museum lagaligo merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah dibawah Dinas Pariwisata provinsi sudah mampu memenuhi fungsi nya sebagai tujuan edukatif. Terdapat 3 seksi yang menjalankan museum La Galigo yaitu seksi preparasi, konservasi dan pengadaan koleksi serta seksi edukasi dan publikasi yang berfungsi sebagai fasilitator  memperkenalkan museum. Terlihat dari benda koleksi dan informasi yang tersedia, museum lagaligo sudah mampu berperan untuk memperkenalkan sejarah kepada kalangan masyarakat walaupun terlihat belum maksimal.

Saat ini museum La Galigo sudah memanfaatkan televisi untuk penyajian informasi mengenai museum termasuk koleksi-koleksinya hal ini dilakukan agar wisatawan merasa lebih santai dalammemperoleh informasi dan pengetahuan. MuseumLa Galigo harus memiliki 4A yaitu1) Atraction atau atraksi adalah produk utama semua Daya Tarik Wisata. Atraksi ini berkaitan dengan what to see dan what to do. Apa yang bisa dilihat dan dilakukan wisatawan di Daya Tarik Wisata tersebut. Atraksi di Museum La Galigo berupa keindahan, budaya masyarakat, peninggalan bangunan bersejarah, unikdan berbeda dari daerah atau wilayah lain. 2) Accessibility atau aksesibilitas adalah sarana dan infrakstruktur untuk menuju Daya Tarik Wisata. Akses jalan raya, ketersediaan sarana transportasi dan rambu-rambu petunjuk jalan merupakan aspek penting bagi sebuah Daya Tarik Wisata  (Museum La Galigo). Termasuk transportasi yang dapat di gunakan menuju Daya Tarik Wisataterutama transportasi umum. 3) Amenity atau amenitas adalah segala fasilitas pendukung yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan selama berada di Daya Tarik Wisata. Amenitas berkaitan denganketersediaan sarana akomodasi untukmenginap serta restoran atau warung untuk makan dan minum. Kebutuhan lain yang mungkin juga diinginkan dan diperlukan oleh wisatawan, seperti toilet umum, rest area, tempat parkir, klinik kesehatan, dan sarana ibadah sebaiknya tersedia di Daya Tarik Wisata. Tentu saja fasilitas-fasilitas tersebut juga di sesuaikan dengan kondisidari Daya Tarik Wisatadan kebutuhan wisatawan. Tidaksemua amenitas harus berdekatan dan berada di daerah utama Daya Tarik WIsata..Ancilliary berkaiatan dengan ketersediaan sebuah organisasi atau orang-orang yang mengurus  Daya Tarik Wisata tersebut. Ini menjadi penting karena walaupun Daya Tarik Wisata sudah mempunyai atraksi, aksesibilitas, dan amenitas yang baik, tapi jika tidak ada yang mengatur dan mengurus kedepannya akan terbengkalai. Organisasi inilah yang akan mengelola Daya Tarik Wisata sehingga dapat memberikan  keuntungan kepada pihak terkait seperti pemerintah, masyarakat sekitar, wisatawan, lingkungan, dan stakeholder lainnya.

Selain 4A yang membentuk Museum Lagaligo sebagai Daya Tarik Wisata diperlukan juga sapta pesona sebagai pelengkap. Sapta pesona merupakan sebutan bagi 7 unsur pengembangan dan pengelolaan daya Tarik wisata di Indonesia. Sapta pesona terdiri dari: aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan. Aman (keamanan) yaitu menciptakan lingkungan Museum La Galigo yang aman bagi wisatawan sehingga saat berkunjung ke Museum La Galigo wisatawan tidak merasa cemas dan dapat  menikmati kunjungannya. Adapun bentuk aksinya yaitu tidak menganggu wisatawan, menolong dan melindungi wisatawan, bersahabat dengan wisatawan,. Tertib (ketertiban)yaitu menciptakan lingkungan yang tertib bagi berlangsungnya kegiatan kepariwisataan yang mampu memberikan layanan teratur dan efektif bagi wisatawan. Bentuk aksinya yaitu mewujudkan budaya antri, memelihara lingkungan dengan mentaati peraturan yang berlaku, disiplin/tepat waktu, serba teratur, rapi dan lancar. Bersih (kebersihan) menciptakan lingkungan yang bersih bagi berlangsungnya kegiatan kepariwisataan di Museum LaGaligo  yang mampu memberikan layanan higienis bagi wisatawan. Bentuk aksinya yaitu tidak membuang sampah/limbah sembarangan, turut menjaga kebersihan saran dan lingkungan Daya Tarik Wisata,pakaian dan penampilan petugas yang bersih dan rapi. Sejuk (kesejukan) menciptakan lingkungan yang nyaman bagi berlangsungnya kegiatan kepariwisataan di Museum La Galigo yang mampu menawarkan suasana yang nyaman dan rasa “betah” bagi wisatawan, sehingga wisatawan tinggal lebih lama dan kunjungannya lebih panjang. Bentuk aksinya adanya penghijauan terbukti dengan adanya beberapa pohon di lingkungan Museum La Galigo. Indah (keindahan) menciptakan lingkungan yang indah  bagi berlangsungnya kegiatan kepariwisataan di MuseumLa Galigo yang mampu menawarkan suasana yang menarik dan menumbuhkan kesan yang mendalam bagi wisatawan, sehingga mendorong promosi ke kalangan/pasaryang lebih luas dan potensi kunjungan ulang. Bentuk aksinya yaitumenjaga keindahan vegetasi, tanaman hias dan peneduh sebagai elemen estetika lingkungan yang bersifat natural. Ramah (keramahan) menciptakan lingkungan yang ramah bagi  berlangsungnya kegiatan kepariwisataan diMuseum La Galigo yang mampu menawarkan suasana yang akrab, bersahabat sehingga mendorong minat kunjungan ulang dan promosi yang positif bagi prospek pasar yang lebih luas. Bentukaksinya seperti pihak petugas bersikap sebagai tuan rumah yang baik, bisa menampilkansikap dan perilaku yang terpuji, menampilakan senyum dan keramah-tamahan yang tulus. Kenangan yaitu menciptakan memori yang berkesan bagi wisatawan yang berkunjung ke Museum LaGaligo  sehingga wisatawan dapat memperoleh pengalaman yang membekas dalam benaknya dan menumbuhkan motivasi untukberkunjung ulang.bentuk aksinya yaitu menggali dan mengangkat keunikan budaya lokal serta menyediakan cendramata yang menarik, unik/khas serta mudah dibawa.


Museum  La Galigo selain memiliki tujuan edukasi perlunya sebuah museum juga mampu memenuhi bagian dari pariwisata untuk menarik pengunjung. Berikut ini beberapa upaya atau langkah-langkah strategis yang dapat di terapkan oleh pengelola Museum La Galigo agar mampu menarik wisatawan datang dan menikmati koleksi-koleksi yang di pamerikan di MuseumLa Galigo. Pertama, Mengubah  bangunan museum dengan lebih menarik lagi, menambah kapasitas pengunjung, Museum juga perlu menawarkan suatu ruangan atau lingkungan yang aman dan nyaman jadi  perlu adanya renovasi gedung yang sudah tidak layak yang dapat membahayakan keselamatan pengunjung,selain itu diperlukan area atau tempat bersantai, membangun kafe-kafe dengan tema yang unik yang dapat menjadi alternatif dimana wisatawan dapat menikmati suasana rileks sambil berkunjung ke Museum La Galigo. Kedua, harus adanya promosi kepada pihak luas dengan cara  1. Selalu mengadakan pameran, misalnya saja mengikuti  pameran museum se-indonesia  yaitu pameran kain tenun sehingga wisatawan dapat melihat kain tenun dari seluruh wilayah indonesia,  2. Memudahkan wisatawan  dengan memfasilitasi kebutuhan yang di butuhkan wisatawan dengan membuat Museum La Galigo menjadi berbasis digital, games, foto boot, 3. Selain itu untuk agar membuat para wisatawan tidak merasa bosansaat mengunjungi suatu museum perlu mengadakan suatu event, acara talk show, panggung apresiasi siswa seperti bernyanyi lagu daerah, tari-tarian daerah, pentas seni dan tradisional, serta kuis dan games, 4. Ketersediaan perpustakaan yang menjadi salah satu upaya dalam menarik wisatawan berkunjung ke museum, perpustakaan dengan koleksi-koleksi buku terbaru dan berkualitas dapat mendorong wisatawan untuk datang belajar di museum tersebut.  

Rabu, 03 Mei 2017

Pengelolaan Museum Mandar Sebagai Daya Tarik Wisata

Generasi masa kini harus mampu memahami dan belajar dari pengalaman sejarah. Masa lalu merupakan pembelajaran yang sangat penting sebagai refleksi dari kehidupan serta pijakan untuk membangun di masa depan. Demikian seperti ungkapan “We learn history for learning the present” (Kambali, 2005). Salah satu media yang sangat efektif untuk mengenal sejarah ialah melalui museum. Museum bagi suatu bangsa sangatlah penting. Peradaban suatu bangsa dapat dilihat dari atau lewat museum yang dimilikinya. Seorang wisatawan yang datang di suatu daerah tidak perlu menjelajah seluruh daerah itu untuk mengenal dan melihat kebudayaan atau sejarahnya. Dengan adanya museum, peradaban nenek moyang masyarakat kita dapat dipahami. Menurut International Council of Museum (ICOM), museum adalah suatu lembaga yang bersifat tetap dan memberikan pelayanan terhadap kepentingan masyarakat dan kemajuannya terbuka untuk umum tidak bertujuan semata-mata mencari keuntungan untuk mengumpulkan, memelihara, meneliti, dan memamerkan benda-benda yang merupakan tanda bukti evolusi alam dan manusia untuk tujuan studi, pendidikan, dan rekreasi.
Namun dalam konteksnya, museum saat ini harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Kemauan dan ketertarikan masyarakat terhadap museum sangat dipengaruhi oleh bagaimana suatu museum mampu menyesuaikan diri dengan keinginan pengunjung serta wisatawan. Museum harus mampu memberikan rasa kenyamanan, aman, sejuk serta memenuhi kebutuhan para pengunjung. Inilah peran museum sebagai daya tarik wisata. Dalam perspektif pariwisata, museum tidak lagi hanya berfungsi sebagai objek penelitian dan pendidikan, namun juga berperan sebagai tujuan dan penyelenggara rekreasi.  Oleh sebab itu, sudah sepantasnya museum  dikelola demi memenuhi unsur kenikmatan (enjoyment), hiburan (entertainment), dan pendidikan (education) bagi para pengunjungnya. Selain aspek diatas, museum yang mengembangkan perannya sebagai daya tarik wisata harus memenuhi tiga syarat sebagaimana teori yang dikemukakan oleh Yoeti (1996:177) sebagai berikut:
1.      Daerah itu harus mempunyai apa yang disebut sebagai “something to see”. Artinya di tempat tersebut harus ada objek wisata dan atraksi wisata, yang berbeda dengan apa yang dimiliki daerah lain.
2.       Di daerah tersebut harus tersedia apa yang disebut dengan istilah “something to do”. Artinya di tempat tersebut setiap banyak yang dilihat dan disaksikan, harus pula disediakan fasilitas rekreasi atau amusements yang dapat membuat mereka betah tinggal lebih lama di tempat itu.
3.      Di daerah tersebut harus tersedia apa yang disebut dengan ”something to buy”. Artinya, di tempat tersebut harus tersedia fasilitas untuk berbelanja (shopping), terutama barang-barang souvenir dan kerajinan rakyat sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke tempat asal masing-masing.


Untuk memahami peranan dan fungsi museum sebagai sarana edukasi dan rekreasi penulis berkesempatan mengunjungi Museum Mandar Majene yang berada di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Museum Mandar Majene didirikan berdasarkan keputusan Seminar kebudayaan Mandar di Majene pada tanggal 2 Agustus 1984. Pada tahun 1989 status hukum Museum Mandar Majene dialihkan dari status swasta (yayasan) menjadi Museum Daerah Kabupaten Majene. Selain itu pada tahun yang sama diputuskan pula pemindahan lokasi museum dari lokasi lama ke bangunan bekas Rumah Sakit Umum Majene hingga sampai sekarang.  Museum Mandar memiliki kurang lebih 1304 buah koleksi yang terdiri dari koleksi geologi, geografi, biologi, etnografi, arkeologi, sejarah, numismatik, heraldik, filologi, keramik, seni rupa, dan teknologi.

Gambar 1. Tangga Menuju Museum Mandar
Foto : Rizaldy

     Dari sekian banyak koleksi yang terdapat di Museum Mandar, koleksi yang paling banyak menarik minat pengunjung ialah koleksi benda bersejarah. Beberapa jenis benda bersejarah yang disimpan di Museum Mandar antara lain fosil batu, senjata tajam tradisional, keramik, piring kuno, pakaian adat tradisional serta berbagai benda kuno lainnya. Ada pula silsilah kerajaan Majene serta gambar mengenai gambar mengenai makam serta raja-raja yang terdahulu. Disisi lain terdapat berbagai kaligrafi kuno yang berasal dari nenek moyang suku mandar. 

Gambar 2. Salah satu lukisan yang terdapat di Museum Mandar
Foto : Rizaldy

Selain itu bangunan Museum Mandar juga memiliki sejarah tersendiri. Bangunan tersebut sebelumnya merupakan gedung rumah sakit yang sudah digunakan sejak zaman Kolonial Hindia Belanda. Bangunan ini mengandung nilai historis mengandung peristiwa penting dimana masyarakat Mandar turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada era Kolonial Belanda. Di Museum tersebut juga memiliki koleksi batu bata yang digunakan untuk membangun gedung rumah sakit tersebut.
            Hal lain yang unik dari Museum Mandar ialah terdapat replika jenis perahu tradisional yang digunakan suku Mandar. Di sini, ada beberapa replika berbagai jenis perahu tradisional. Ada maket perahu, yaitu perahu tanpa layar. Lalu, ada perahu layar dengan satu layar maupun dengan dua layar. Salah satunya adalah perahu Lete', yang digunakan mengangkut barang antar pulau. Walau bentuknya kecil, perahu Lete' mampu mengangkut barang hingga 15 ton. Perahu Lete' ukuran besar bahkan memiliki daya angkut sebesar 50 ton. Ada pula maket perahu Ba'go yang memiliki daya angkut hingga 100 ton dan menggunakan dua layar. Museum tersebut juga menampilkan keunikan suku Mandar. Selain mengenai perahu, di museum ini banyak terdapat beragam informasi mengenai kebudayaan suku Mandar. Pengunjung bisa mengenali pakaian adat, bentuk rumah, hingga peralatan rumah tangga.



Gambar 3. Replika perahu Sandek
Foto : Rizaldy


Suku Mandar yang mendiami kawasan pesisir Provinsi Sulawesi Barat sejak lama terkenal sebagai pelaut ulung. Mereka mampu mengarungi lautan Indonesia hingga ke Kalimantan bahkan ke daerah Nusa Tenggara dengan mengandalkan perahu layar tradisional. Dengan kemampuan yang ulung, nenek moyang suku Mandar hanya mengandalkan angin saat berlayar serta kelihaian membaca bintang. Saat ini perahu-perahu layar tradisional itu sudah mengalami banyak perubahan.

Koleksi lain yang terdapat di Museum Mandar antara lain :

Gambar 4. Struktur Kerajaan Pambuan Majene
Foto : Rizaldy

Gambar 5. Salah satu kaligrafi kuno Suku Mandar
Foto : Rizaldy

Gambar 6. Sejarah lahirnya lagu tradisional Suku Mandar
Foto : Rizaldy

Museum Mandar berlokasi tepatnya di Jalan Raden Nomor 17, Pangali-ali, Kecamatan Banggae , Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Museum ini merupakan satu – satunya museum yang berada di Kabupaten Majene. Selain dari aksesnya yang mudah, letak strategis museum ini yang berada di tengah kota, dekat dengan sarana lainnya seperti tempat ibadah, restoran serta pusat informasi yakni Dinas Budaya dan Pariwisata itu sendiri. Selain itu keunggulan yang mampu menarik pengunjung yaitu beragam variasi koleksi benda yang terdapat di Museum Mandar. Dengan adanya beragam koleksi serta keunikan (attraksi) serta lokasi yang mudah dicapai (aksesibilitas), Museum Mandar memiliki potensi sebagai daya tarik wisata unggulan di Kabupaten Majene bahkan mampu menjadi ikon museum di Sulawesi Barat.
Namun disamping keunggulan tersebut, masih banyak hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan Museum Mandar. Banyak nya kendala yang terdapat dalam pengelolaan menjadikan museum ini terkesan stagnan pada perkembangannya. Kendala yang pertama ialah, belum adanya kejelasan antar Dinas Budaya Pariwisata setempat dengan pengelola museum mengenai jabatan struktural yang ada di museum tersebut. Museum Mandar yang status nya merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dibawah Dinas Budaya dan Pariwisata Majene (DISBUDPAR) sampai saat ini hanya memiliki Kepala UPTD. Hal ini dibenarkan oleh pengelola Museum tersebut. Sekiranya yang menjadi permasalahan ialah belum ada kejelasan seksi serta kepala bidang sebagai pengelola di museum tersebut. Hal ini menjadikan kendala pengembangan pengelolaan museum dalam aspek sumber daya manusia. Karena ketika adanya pelatihan – pelatihan yang diadakan diluar daerah mengenai pengelolaan museum, hanya orang Dinas yang diberangkatkan bukan orang yang mengelola museum tersebut. Penulis berkesempatan untuk mewancarai Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permusiuman di Dinas Budaya dan Pariwisata Majene. Dalam isu ini beliau menuturkan bahwa seiring dikarenakan adanya nomenklatur yang berubah – ubah maka sampai saat ini hanya ada Kepala UPTD. Namun kedepannya beliau menyampaikan bahwa akan ada perombakan struktural secara besar-besaran untuk mengatasi masalah tersebut.
Kendala yang kedua adalah masih kurangnya perawatan dan tata letak koleksi serta aspek fisik bangunan yang memadai pada Museum Mandar. Kendati Museum Mandar memiliki berbagai macam koleksi, namun tata letak sebagian koleksi – koleksi tersebut masih terkesan acak serta tidak menarik. Sebagai contoh terdapatnya lukisan kain yang menjadi koleksi namun terpajang tidak menggunakan bingkai dan kaca. Terdapat pula struktur kerajaan kerajaan yang tertulis namun tidak di letakkan dan digantung dengan semestinya. Hal tersebut menjadi ancaman bagi kondisi koleksi. Lemahnya perawatan dan perlindungan mampu membuat koleksi yang berada di Museum tidak bertahan lama. Selain itu masih banyak pula etalase – etalase yang berdebu sehingga terkesan terbengkalai.  Hal tersebut belum mendapatkan solusi dikarenakan minimnya anggaran pemerintah yang dialokasikan terhadap museum tersebut.

Gambar 7. Bangunan yang terkesan lusuh dan terdapat pintu kaca yang pecah
Foto : Rizaldy

Disisi lain, kendala yang ketiga ialah belum adanya aktivitas dan amenitas yang mampu menarik pengunjung pada museum tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permusiuman, Museum Mandar belum memiliki auditorium dan ruang tata pameran.  Beliau sangat menyayangkan bahwa Museum Mandar yang memiliki banyak koleksi namun belum memiliki fasilitas yang memadai. Di museum tersebut pun belum adanya aktivitas yang dapat lebih menarik pengunjung sehingga wisatawan yang berkunjung masih sekedar berfoto-foto.
Dalam aspek promosi, Museum ini pun masih belum sepenuhnya aktif dalam melakukan promosi. Promosi yang dilakukan hanya sekedar penyuluhan – penyuluhan terhadap sekolah – sekolah. Museum Mandar yang sudah terdaftar dalam Asosiasi Museum Indonesia (AMI) namun belum memiliki wadah atau forum yang proporsional untuk melakukan sosialisasi. Hal ini menjadi kendala dikarenakan pengelola museum (UPTD) dan dinas setempat (DISBUDPAR) belum mampu mensinergi dalam usaha mempromosikan museum tersebut. Namun kedepannya usaha mengembangkan promosi masih terus dilakukan. Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permusium DInas Budaya dan Pariwisata Majene menuturkan bahwa akan adanya pameran museum bersama yang dilakukan di Benteng Fort Rotterdam, Makassar pada 5 juli 2017. Harapannya dengan adanya kegiatan seperti itu mampu lebih memperkenalkan mengenai Museum Mandar
Museum Mandar sebagai sarana edukasi dan rekreasi unggulan memang bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Banyaknya kendala dalam pengelolaan serta kurangnya anggaran memang menjadi hambatan utama yang dihadapi. Dengan adanya penulisan ini, diharapkan agar mampu menjadi catatan bagi pengelola serta dinas setempat untuk mampu mengembangkan Museum Mandar. Hal ini sangatlah penting dikarenakan museum merupakan salah satu media yang mampu mengedukasi masyarakat serta mendatangkan pengunjung bagi kegiatan pariwisata di daerah tersebut.


DAFTAR PUSTAKA :

1.   http://asepkambali.multiply.com/journal/item/
2.  ICOM, 2004, Running a Museum : A Parctical Handbook, International Council of Museum, UNESCO,                France
3.   Oka A. Yoeti. Edisi Revisi, Pengantar Ilmu Pariwisata, Penerbit Angkasa. Bandung